RSS

Pengharapan Untuk Awal Desember

Long time no see you my beloved BLOG. Memang tidak merasa sangat sangat sangat rindu buat menulis tetapi ehem rasanya sedikit aneh, biasa anak muda jaman sekarang, jadi sering galau juga (emang ngaruh gitu?).

One, two, three! (apasih!) maksutnya mau menghitung, karena ada kejutan dari saya. Ehem (persiapan suara) dan Tadaaaa I’m a head of committee of ” Workshop Fotografi”. Dan minggu ini sudah minggu terakhir buat pendaftaran. Tapi tapi seberti kebanyakan acara lainnya, workshop ini juga punya buanyak MASALAH! Soal pembicara, publikasi yang saat ini baru menghasilkan 36 orang, sampai dengan masalah intern dengan panitia lainnya. But now it’s getting better. Kemarin saya yang awal-awalnya masih banyak ngeluh, bingung, galau, nagis, marah, dll. Sekarang sudah mulai banyak berubah. Lebih calm (ceileh), jalani apa adanya tapi tidak mau pasrah dengan keadaan. Banyak juga pelajarannya.

Tapi ya itu satu lagi kendala yang masih nempel kemana-mana, banyak tugas kuliah yang keteteran dan udah bolos agak banyak (ehem sedikit si, tapi merata disemua makul) Payah ah!.
Oke, tak apa, lagipula udah mulai aku perbaiki sedikit-sedikit kok. Kalo membuat tugas juga tidak asal-asalan begitu. Intinya adalah SEMANGAT!

Dan kita akan lihat tanggal 3 Desember nanti, semoga berhasil, dan tidak mengecewakan. Wish it 🙂

 
Leave a comment

Posted by on November 21, 2011 in cerita

 

Tags: , , , , ,

Uji Coba 200 Kata 5 Menit

Membakar api obsesi dan menajamkan pisau deadline.

Saya tidak tahu mau menulis apa, tapi entah mengapa setelah membaca surat senin pagi yang berjudul “Obsesi dan Deadline, Dua Perangkat Ampuh “ oleh A.S. Laksana,yang sering disebut mas sulak itu, di blognya. Saya merasa punya kewajiban untuk mencoba tehnik yang dia berikan didalam tulisannya itu. 200 kata dalam 5 menit. Hahahha lucu ! saya tidak penah membayangkan 200 kata itu detailnya seberapa. Saya baru akan tahu setelah saya merampungkan tulisan ini tentunya. Ya, kalo saja saya benar bisa merampungkan 200 kata dalam 5 menit. Dan saya sekarang memprakteannya dalam tulisan ini. Tidak percaya ? terserah saja.

Terlepas dari 200 kata dalam lima menit. Saya sangat setuju dengan yang diungkapkan mas sulak. Bahwa obsesi dan deadline adalah hal tidak nyata yang bisa membuat orang menyelesaikan ambisinya. Hey, saya juga punya obsesi menulis buku. Tapi sampai saat ini saya belum menghasilkan satu bukupun. Boro-boro satu buku. Menulis satu cerpen yang notabene lebih pendek dari sebuah buku (berisi beratus lembar tulisan cerita, berdasarkan type saya) saja masih dibilang non-sense. Saya memang suka punya ide-ide. Kenyataanya penyalurannya kurang mempunyai obsesi, tidak seperti saat punya ide diwaktu awal. Ini memang berat, karena jelas yang menjadi penghalang saya dalam menulis bukanlah orang lain, barang lain, ataupun waktu, yang sering dijadikan kambing hitam. Namun, yang menjadikan kendala itu besar adalah saya sendiri. Diri yang kurang mempunyai obsesi permanen, sampai tujuan terpenuhi. Obsesi hanya sebagai pacuan saja. Obsesi hanya berfungsi didepan bebarengan dengan niat. Setelah itu? Hahaha saya malu sendiri, karena setelah itu saya kehilangan obsesi itu. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 9, 2011 in Menulis

 

Tags: , , , , , ,

Baru bisa berterimakasih saja

Menjaga kepercayaan memang sulit, tapi akan lebih sulit lagi jika kehilangan kepercayaan.

Semua bayangan sudah melayang-layang dipikiran sejak kemarin lusa. Tentang mata merah, teriakan, omelan, bahkan (mungkin) makian. Entahlah semua itu sudah menghantui jauh sebelumnya. Takut. Namun, hal yang akan membuat saya lebih merasa takut dan semakin merasa bersalah jika sampai saya melihat, setetes air mata yang keluar dari mata mereka dihadapan saya. Sungguh, saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri. Walaupun saya tahu betapa kecewa dan sedihnya mereka sejak kemarin.

Biarkan saja saya yang menangis dibelakang. Biar saya yang tanggung semua ini. Karena memang ini salah saya. Tapi saya mohon, saya tidak akan pernah biarkan mereka menangis karena apapun, terutama hanya karena menangisi kesalahan saya.
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2011 in cerita

 

Tidak berjudul akan lebih baik

Ini rasanya seperti dibunuh pelan-pelan. Memang saya tidak dibunuh oleh siapapun. Namun, saya dibunuh oleh diri saya sendiri. Dibunuh oleh rasa bersalah yang mendalam. Dihujam beribu ketakutan. Dikubur bersama rintik air mata. Diri ini memang sudah menjadikanku mati. Tak bersisa.

Dulu, tidak ada kata mati buat saya. Setiap kali kesalahan ada. Selalu ada tempat untuk saya di istana kecilku. Lalu sekarang? saya hancurkan istana saya. Saya rampas semua bahagia didalamnya. Hingga tak ada ruang. Saya bahkan terlampau malu untuk pulang. Saya benar-benar sudah tidak punya tempat. Tidak punya jiwa disana. Malu saya, malu!

————————————————————-

kepercayaan
mata yang merah itu, ada rasa marah, malu, dan sedih.
aku tahu itu Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 23, 2011 in Uncategorized

 

Keruh Tingkat Dewa

Kenapa tiba-tiba pikiran menjadi tidak karuan seperti ini? Jelas! kalo mengerti latarbelakang kenapa sampai begini. Lah kalo ini saya benar-benar tidak mengerti. SAMA SEKALI!

Rasanya sensitif banget. Sedikit-sedikit dipikirin lah. Dipusingin lah. Mumet saya jadinya. Semuanya tidak jelas. Sempet juga nangis sendiri subuh-subuh. Tuhanku, maaf ya puasa-puasa saya nangis begitu.

Sampai-sampai itu Al-Qur’an jadi pelarian. Kan mumpung ini bulan puasa. Setiap malem pasti tadarusan. Disaat keruh begini, tadarusan punya fungsi tambahan. Jadi pelarian (maaf banget, daripada lari ke tempat yang salah). saat baca Al-Qur’an dipuas-puasin bacanya. Sampai tenggorokan serak. Baca sebanyak-banyaknya. Sampai merasa lebih tenang. Pokoknya TOP banget Al-Qur’an. Bisa ikutan bantu menenangkan diri. Walaupun tidak semuanya. Setidaknya saya merasa lebih tenang dulu. Lumayan, satu juz sekali baca? lewat deh pokoknya.

Huaaaaaaaaaa!
Saya butuh pelarian lebih, tapi apa. Help me please! take me out of here!
Tuh kan nulis ini aja saya masih nangis. Payah!

 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2011 in cerita

 

Tags: , , , ,

Rencana Kita?

Ada yang aneh dengan pikiran saya akhir-akhir ini. Tapi saya sendiri tidak tahu apa yang saya bingungkan. Well, Saya sebenarnya hanya pura-pura tidak tahu. jelas, saya tahu semua. Semua yang saya pikirkan dan tentu yang saya bingungkan. Ini adalah apa ya?

Ah rumit, masalah yang disebut perasaan dan lain-lain.Ada yang mengganjal. Saya tahu semua itu ada ukurannya. Dan saya tahu ukuran yang pas bagi saya itu seberapa. Dan jika sesuatu memenuhi bahkan melebihi ukuran itu. Saya harus tahu artinya apa. Juga konsekuensinya apa. Bukan apa-apa. Karena semua ini jelas belum pastinya. Seperti yang dikatakannya. “Kita juga punya planning”.
Tapi rencana hanya punya kita, kepastian adalah ujungnya. Saya takut semua ini tidak seperti RENCANA. Dan apa? ini terlalu jauh.
Entahlah. Saya tidak mau memperjelas. Saya hanya akan melihat reaksinya. Responnya.

Seberapa dia mengerti apa yang saya maksud disini. Tanpa harus ada penjelasan rincinya. 😦

 
1 Comment

Posted by on July 22, 2011 in cerita, Teriakan

 

Karena mereka ada

Sungguh, saya tidak pernah menyangka akan sampai di tempat itu siang ini.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Tanya sana-sini. Saya akhirnya sampai juga di tempat. Sebuah rumah kecil yang cukup rapat berjajar dengan rumah lainnya. Rumah sederhana, dengan lantai yang sudah berkramik.

Awalnya saya tidak pernah tahu apa yang akan saya dapat lihat disana. saya hanya tahu saya akan pergi ke suatu yayasan cacat ganda. Cacat ganda? (benar-benar tidak ada bayangan sama sekali yang namanya cacat ganda itu seperti apa). Saya hanya bisa membayangkan akan ada banyak anak kecil berkeliaran lari-lari, main, tertawa. Tapi . . .
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2011 in cerita

 

Tags: , , , ,